PAKEM

A. PENDAHULUAN
Tantangan baru yang dihadapi pendidikan dasar dan menengah dengan diterbitkannya Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar Standar Isi dan Kompetensi Lulusan adalah pemberian peluang bagi sekolah untuk mengembangkan sendiri dalam menyusun kurikulumnya sesuai dengan Misi, Visi, Tujuan sekolah, serta keleluasaan dalam menyusun Silabus menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Problema yang tinbul di lapangan adalah perlunya membekali guru agar dapat menciptakan pembelajaran sesuai dengan pendekatan pembelajaran kontektual (contextual teaching and learning), pendekatan belajar aktif (active learning) dan di Sekolah Dasar dan Menengah dengan pendekatan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).
Pembekalan kemampuan guru dalam pembelajaran ini selaras dengan Undang-Undang RI nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menuntut peningkatan profesional Tenaga kependidikan dalam meningkatkan tugas dalam pembelajaran sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna. Adapun prinsip profesionalisme sesuai dengan pasal 7 adalah: a) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; b) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; c) memiliki kompetensi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; d) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; e) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan. Oleh karena itu dengan adanya perubahan paradigma dalam pembelajaran, merubah peran guru aktif menjadi siswa aktif. Azas aktifitas dalam proses belajar mengajar tidak mendudukan peran siswa hanya mendengarkan hal-hal yang diceramahkan oleh guru, tetapi bagaimana guru memberdayakan semua potensi siswa melalui berbagai pengalaman belajar. Hal ini sesuai dengan kompetensi pedagogis sesuai dengan bidangnya. Oleh karena itu guru hendaknya mengupayakan pembelajaran yang efektif yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri bagi siswa.
PAKEM juga ditekankan dalam prinsip pelaksanaan kurikulum antara lain disebutkan lima pilar belajar sebagai berikut:
1. Beriman dan bertagwa kepada tuhan Yang Maha Esa
2. Belajar untuk memahami dan menghayati
3. Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif
4. Belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan
5. Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Dengan demikian dalam proses pembelajaran aktif, tidak lagi menempatkan siswa sebagai konsumen atau pendengar saja, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Percival dan Ellington (1984) Pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik merupakan sistem pembelajaran yang menunjukkan dominasi peserta didik selama kegiatan pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing dan pemimpin. Karakteristik pembelajaran dengan pendekatan yang berorientasi pada peserta didik bahwa kegiatan pembelajaran beragam dengan menggunakan berbagai macam sumber belajar, metode, media, dan strategi secara bergantian, sehingga selama proses pembelajaran peserta didik berpartisipasi aktif baik secara individu maupun kelompok. Cara pembelajaran ini juga sering dikenal sebagai pendekatan belajar aktif.

B. PERGESERAN PARADIGMA BELAJAR
Banyak penelitian terbaru yang membahas tentang kenyataan bahwa orang belajar melibatkan seluruh tubuh dan pikiran pada saat yang bersamaan. Itulah sebabnya mengapa ketika orang belajar secara kontinyu dengan cara “melakukan” akan jauh lebih baik dan lebih cepat dari pada mempelajari hal tersebut setahap demi setahap tetapi diluar konteks. Orang akan lebih cepat dan lebih baik dalam menguasai bahasa Inggris ketika langsung berada di Amerika selama 1 tahun dibandingkan dengan mereka yang mempelajari di sekolah selama 3 tahun. Pendekatan belajar tradisional yang diterapkan ternyata justru menumpulkan potensi manusia.
Berikut ini adalah perbandingan kecenderungan belajar menurut paradigma lama dan baru.
Paradigma Lama Paradigma Baru
Content Based
Mementingkan segi kognitif/hafalan
Tidak bersemangat dan muram
Kaku dan serius
Guru memberi, siswa menerima
Otoriter
Verbal
Hasil belajar diukur dengan tes
Individualistis Activity Based
Keseluruhan kognitif, fisik dan emosional
Antusias dan hidup
Fleksibel dan gembira
Guru adalah fasilitator, pendamping
Demokratis
Multi inderawi
Tes dan non tes
Gotong royong/bekerja sama

Mengajar bagi guru adalah menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar, hal ini tidak harus berupa proses tranformasi dari guru kepada siswa. Guna meningkatkan keaktifan siswa ada berbagai pendekatan dan metode yang perlu dikembangkan, antara lain pembelajaran kontektual.
Oleh karena itu “Transfer Belajar” yang diharapkan adalah:
a). Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
b). Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit), sedikit-demi sedikit.
c). Penting bagi siswa tahu “untuk apa” ia belajar, dan “bagaimana” ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
d). Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan bagi siswa mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat mengenai hal-hal yang baru.
e). Siswa dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru, akan tetapi untuk hal-hal yang sulit diperlukan bimbingan guru dalam membantu menghubungkan antara yang baru dipelajari dan yang sudah diketahui.
f). Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
Atas dasar ”Transfer Belajar” tersebut diatas maka sesuai dengan paradigma pembelajaran saat ini pembelajaran kontektual dapat digunakan sebagai dasar pembelajaran PAKEM.
Pembelajaran dalam Mel Silberman (2000), adalah pengubahan interaksi belajar yang meriah dengan segala nuansanya sehingga pembelajaran berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, sehingga menjadi landasan dan kerangka untuk belajar. Percepatan belajar dengan menyingkirkan hambatan yang mengahalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan “keterlibatan aktif”. Azas uatam dalam Quantum Teaching adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”.
Kerangka rancangan belajar Quantum Teaching dikenal dengan istilah TANDUR, artinya:
 TUMBUHKAN
Tumbuhkan minat dengan memuaskan ”Apakah Manfaatnya BagiKu” (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar.
 ALAMI
Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar.
 NAMAI
Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”.

 DEMONSTRASIKAN
Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk “Menunjukkan bahwa mereka tahu”.
 ULANGI
Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan,”Aku Tahu Bahwa Aku Memang Tahu”.
 RAYAKAN
Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan pemerolehan ketrampilan dan ilmu pengetahuan.
Adapun yang dimaksud AMBAK dalam Quantum Learning adalah motivasi yang didapat dari pemilihan antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan. Segala sesuatu yang ingin anda/siswa kerjakan harus menjajikan manfaat bagi anda/siswa atau anda/siswa tidak akan termutivasi untuk melakukannya. Jadi dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan minat apa yang harus dipelajari oleh siswa dengan menghubungkannya melalui ”Dunia Nyata/ kontektual”.

C. KONSEP DASAR PAKEM
PAKEM adalah sebuah pendekatan yang memungkinkan peserta didik mengerjakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan pemahaman dengan penekanan belajar sambil bekerja, sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar termasuk pemanfaatan lingkungan supaya pembelajaran lebih menarik, menyenangkan dan efektif.
Dari uraian diatas pembelajaran PAKEM diharapkan adanya keaktifan dan kekreatifan peserta didik, demikian juga guru dituntut aktif dan kreatif. Oleh karena itu agar pembelajaran berhasil, guru dituntut secara aktif dan kreatif menuangkan semua gagasan dan kemampuannya dalan menyusun perencanaan pembelajaran yang baik, melaksanakan dengan baik dan dinilai dengan baik pula.
Belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antaraa aspek kognitif, afektif dan psikomotorik (Rochman Natawidjaja, 1985) Dalam proses belajar mengajar keaktifan siswa berbeda-beda, Mc Keachie dalam tulisannya yang berjudul “Student-centered versus instructor-centered Instruction” mengemukakan dua kutub gaya mengajar, ialah “pengajaran berpusat pada siswa dan pengajaran berpusat pada guru” disini dia menekankan bahwa perbedaan gaya mengajar dengan perbedaan tekanan. Disatu fihak terdapat gaya yang lebih menekankan pada keaktifan guru dan difihak lain ada yang menekankan keaktifan siswa dan sebagian besar terletak di antaranya.
Selanjutnya Mel Silberman dalam bukunya “Active Learning”, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, 2002 mengembangkan pernyataan Confusius menjadi paham Belajar Aktif sebagai berikut:
Apa yang saya dengar saya lupa
Apa yang saya lihat saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan diskusikan saya mulai mengerti
Apa yang saya lihat, dengar, diskusikan dan kerjakan saya dapat pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan saya kuasai
Keaktifan siswa tidak saja dalam menerima informasi tetapi juga dalam memproses informasi tersebut secara efektif, otak membantu melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal. Belajar secara pasif tidak “hidup”, karena siswa mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan dan tanpa daya tarik pada hasil, sedang secara aktif siswa dituntut mencari sesuatu sehingga dalam pembelajaran seluruh potensi siswa akan terlibat secara optimal.
Pendekatan ini memberi kebebasan siswa dalam memperoleh dan menentukan pengalaman belajarnya dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Dengan belajar aktif kompetensi yang dicapai terkesan luas dan mendalam sehingga tidak mudah dilupakan, karena mereka mengkonstruksikan sendiri pengetahuan yang dipelajari dengan bimbingan dan arahan dari guru. Sedangkan kelemahannya bila penggunaan alokasi waktu kurang efisien dan guru tidak segera dapat mengetahui ketercapaian kompetensi yang diharapkan yang terjabar dalam silabus, sulit untuk dipenuhi sesuai waktu yang ditetapkan. Karena kemajuan belajar siswa amat tergantung kemampuannya, apalagi bila siswa memiliki kemampuan yang heterogen.

D. ALASAN PENERAPAN PAKEM
Terdapat dua alasan pembelajaran PAKEM diterapkan di Indonesia yaitu:
a. PAKEM memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran. Yang terjadi dalam pembelajaran konvensional menunjukkan bahwa guru yang aktif, sementara siswanya yang pasif, sehingga pembelajaran menjemukan, tidak menarik dan tidak menyenagkan.
b. PAKEM memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama kreatif. Guru berupaya kreatif dengan mencoba berbagai cara untuk melibatkan peserta didik dalam pembelajaran. Peserta didik juga dituntut kreatif pula dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru maupu berbagai sumber belajar sehingga akhirnya hasil belajar dapat diperoleh sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.

E. CIRI-CIRI/KARAKTERISTIK PAKEM
Istilah pendekatan PAKEM yang dipopulerkan oleh Direktorat Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan Nasional dalam rangka meningkatkan kualitas guru di Sekolah merupakan akronim (singkatan) dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Pembelajaran aktif menunjuk pada prakarsa siswa dalam berperan untuk melakukan serangkaian kegiatan yang diciptakan oleh guru mulai dari awal hingga berakhirnya pelajaran. Hal yang demikian memang sudah seharusnya, karena kesuksesan dalam belajar sepenuhnya menjadi tanggung-jawab siswa, sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator, pembimbing dan pemimpin selama siswa belajar di sekolah. Di samping itu aktivitas belajar menuntut adanya usaha yang penuh kehati-hatian, telitian dan ketekunan. Usaha ini akan terwujud apabila siswa mau aktif secara bertanggung-jawab demi keberhasilannya.
Pembelajaran kreatif menunjuk pada kreativitas dan inovasi berpikir yang diupayakan siswa dalam menyatu-kaitkan perolehannya selama belajar menjadi sesuatu yang berarti. Misal, siswa memperoleh pengetahuan tentang sepatu dan roda, kemudian disatu-kaitkan secara kreatif menjadi sepatu roda. Hal ini dapat dikategorikan sebagai model pembelajaran yang menurut Ausubel diistilahkan dengan belajar bermakna (meaningfull learning).
Pembelajaran efektif menunjuk pada kualitas hasil yang telah diupayakan oleh siswa dalam belajarnya. Efektivitas akan hasil belajar di sini amat dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya kadar keaktifan dan kreativitas siswa selama belajar di sekolah dan tingdak-lanjutnya di luar sekolah. Di samping itu juga dipengaruhi oleh kualitas bahan pelajaran yang menjadi masukannya.
Pembelajaran yang menyenangkan menunjuk pada kondisi yang dapat diciptakan oleh guru selama penyajian bahan pelajaran. Kondisi ini amat berpengaruh terhadap kadar keatifan, kreativitas dan inovatif siswa dalam belajar yang pada gilirannya akan dapat membuahkan hasil belajar yang berkualitas. Seberapa menyenangkannya suatu kondisi belajar (kondisi yang kondusif) amat tergantung pada guru dalam memilih sekaligus menetakpan strategi yang akan digunakan untuk mewujudkan tercapainya suatu tujuan belajar. Pada strategi yang telah ditetapkan akan nampak serangkaian metode dan media yang dapat dipergunakan untuk menyajikan bahan pelajaran kepada siswa. Strategi, metode dan media yang telah ditetapkan akan memcerminkan suatu pendekatan mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaannya.

Yang Perlu Diperhatikan Dalam Melaksanakan PAKEM (Buku Paket Pembelajaran Awal untuk sekolah dan masyarakat, 2005)
a. Memahami sifat yang dimiliki siswa
Pada dasarnya anak memiliki sifat ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak orang indonesia, atau anak bukan indonesia, selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi perkembangan sikap/berfikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi perkembangan sifat tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan.
b. Mengenal siswa secara perorangan
Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memilki kemampuan yang berbeda. Dalam pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan perbedaan individu perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua siswa dalam kelas tidak perlu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Siswa yang memilki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.
c. Mengenal perilaku siswa dalam pengorganisasian belajar
Sebagai makhluk sosial, anak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorgansasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelasaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.
d. Mengembangkan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berfikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berfikir tersebut, kretis dan kreatif, berasal dari ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan pertanyaan yang dimulai dari kata-kata ”apa yang terjadi jika ….” lebih baik dari pada yang dimulai dengan kata-kata ”apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup hanya ada satu jawaban yang benar.
e. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik
Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.
f. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar
Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar siswa. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai obyek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat siswa merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa keruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemenfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah ketrampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklarifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

F. PRINSIP PAKEM
Terdapat empat prinsip dalam Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan yaitu:
1. Mengalami
Dalam hal ini peserta didik mengalami secara langsung dengan memanfaatkan banyak indera, yaitu dengan melakukan: pengamatan, percobaan, penyelidikan, wawancara. Jadi peserta didik belajar banyak melalui berbuat.
2. Interaksi
Dalam hal ini interaksi antara peserta didik itu sendiri, maupun dengan guru, baik melalui diskusi, tanya jawab, atau bermain peran harus selalu terjaga, karena dengan interaksi tersebut pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik.
3. Komunikasi
Dalam pembelajaran komunikasi perlu diupayakan, karena komunikasi adalah cara kita menyampaikan apa yang kita ketahui. Interaksi tidak cukup jika tidak terjadi komunikasi, bahkan interaksi menjadi lebih bermakna jika interaksi itu dikomunikasikan.
4. Refleksi
Refleksi merupakan hal penting lainnya agar pembelajaran bermakna. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya refleksi dari peserta didik ketika mereka mempelajari sesuatu. Refleksi artinya agar peserta didik memikirkan kembali apa yang diperbuat atau dipikirkan. Dengan refleksi kita dapat menilai efektif atau tidaknya pembelajaran. Refleksi guru dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya menyeluruh, jangan sampai pembelajaran menyenangkan, namun tingkat subtansi materinya masih rendah atau belum tercapai sesuai yang kita harapkan.

G. CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Pembelajaran Kontekstual adalah salah satu prinsip pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dengan penuh makna. Proses pembelajaran diharapkan mendorong siswa untuk menggunakan pemahamannya dalam mengembangkan diri dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun pengertian Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut :
Proyek yang dilakukan Center on Education and Work at the University of Wisconsin-Madison, pengajaran dan pembelajaran kontekstual adalah suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan pekerja serta meminta ketekunan belajar. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual dilakukan dengan berbasis masalah, menggunakan cara belajar yang diatur sendiri, berlaku dalam berbagai macam konteks, memperkuat pengajaran dalam berbagai konteks kehidupan siswa, menggunakan penilaian autentik, dan menggunakan pula kelompok belajar yang bebas.
The Northwest Regional Education Laboratory USA, mengidentifikasikan ada 6 kunci dasar dari pembelajaran kontekstual sebagai berikut:
(1). Pembelajaran bermaknaan, pemahaman, relevansi dan penilaiaan pribadi sangat terkait dengan kepentingan siswa di dalam mempelajari isi materi pelajaran. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pelajaran, jika mereka merasakan berkepentingan untuk belajar demi kehidupannya dimasa mendatang.
(2). Penerapan pengetahuan adalah kemampuan siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan fungsi dimasa sekarang atau dimasa depan.
(3). Berpikir tingkat tinggi, siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berpikir kritis dan berpikir kreatif dalam pengumpulan data, pemahaman suatu isu dan pemecahan suatu masalah.
(4). Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar, isi pembela jaran harus dikaitkan dengan standrat lokal, provinsi, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dunia kerja.
(5). Responsif terhadap budaya, guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, teman pendidik dan masyarakat tempat ia mendidik.
(6). Penilain autentik, penggunaan berbagai strategi penilaian misalnya penilaian proyek / tugas terstruktur, kegiatan siswa, penggunaan portofolio, rubrik, daftar cek, pedoman observasi dan sebagainya akan merefleksikan hasil belajar sesungguhnya.
Dari rumusan definisi tersebut dapat disimpulkan beberapa pernyataan kunci sebagai berikut:
(a). Pembelajaran kontektual merupakan konsepsi belajar yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga negara.
(b). Siswa belajar tidak dalam proses seketika. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh sedikit demi sedikit, berangkat dengan pengetahuan (skemata) yang dimiliki sebelumnya.
(c). Kemajuan belajar siswa diukur dari proses, kinerja, dan produk, berbasis pada prinsip authentic – assessment.

H. TUJUH PILAR/KOMPONEN CTL
CTL memiliki tujuh komponen yang disusun agar belajar menjadi lebih hidup dan bermakna. Ketujuh pilar tersebut disusun sebagai berikut :

1) Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivesme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri bukan menerima informasi dari guru secara instant.

Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses”mengkonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru yang menjadi pusat kegiatan.
Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas seorang guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan:
• Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
• Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
• Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2) Menemukan (Inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

Pembelajaran berdasarkan inkuiri mendorong seluruh pikiran dan tubuh untuk bersam-sama aktif baik di dalam maupun di luar kelas. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. Misalnya topik mengenai macam-macam bentuk daratan di Indonesia sudah saatnya ditemukan sendiri oleh siswa, bukan “menurut buku atau menurut guru”.
Siklus inkuiri yang dapat membantu siswa menemukan sendiri pengetahuannya tetapi hal ini sekali lagi bukan dogma yang harus diikuti dengan kaku. Siklus inkuiri tersebut adalah melalui kegiatan:
 Merumuskan masalah
 Mengamati atau melakukan observasi
 Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya
 Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.
 Mengevaluasi hasil temuan bersama
3) Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Dalam segala aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan: antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain dan sebagainya. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
mengecek pemahaman siswa
membangkitkan respon siswa
mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa
mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
menfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Kegiatan “bertanya” menjawab permasalahan gaya pendidikan lama yang menganggap bahwa “tong kosong berbunyi nyaring” atau “ berbicara adalah perak tetapi diam adalah emas”. Banyak bertanya di kelas seringkali tidak ditanggapi dengan positif oleh guru maupun teman-teman. Kelas bukan merupakan tempat yang aman untuk “berbuat kesalahan” dan eksplorasi. Anak kecil dalam kepolosan belajarnya justru seringkali bertanya banyak hal yang terkadang membingungkan orang tua seperti “kenapa langit warnanya biru? Bagaimana adik bisa berada di perut ibu”. Sekali lagi seiring perjalanan pendidikan kita, kepolosan dan kekritisan tidak semakin terasah tetapi justru sebaliknya. Siswa menjadi malas dan bahkan apatis terhadap kegiatan belajar yang dirasa sebagai siksaan.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Learning community ialah hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
Misalnya seorang yang belum bisa memperkecil atau memperbesar peta dapat dibantu oleh teman yang sudah bisa membuat dengan menunjukkan cara membuatnya. Kedua orang tersebut sudah membentuk masyarakat belajar (Learningcommunity).
Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu, dan seterusnya. Belajar yang baik adalah bersifat sosial.
Model pembelajaran dengan teknik “Learning community” sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam:
 Pembentukan kelompok kecil
 Pembentukan kelompok besar
 Mendatangkan “ahli” ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu dan sebagainya).
 Bekerja dengan kelas sederajat.
 Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
 Bekerja dengan masyarakat.
5) Pemodelan (Modeling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris atau contoh maket/peta daerah. Dengan begitu, guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Model berarti contoh artinya tidak ada satu cara terbaik. Ada banyak. Kepatuhan pada satu model “harus ini” atau “harus itu” sebaiknya diganti dengan “boleh ini atau itu”. Yang penting bahwa orang bisa bertanggung jawab atas pilihannya.
Dalam pendekatan CTL guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya melafalkan suatu kata. Bagaimana contoh praktek pemodelan di kelas?
Guru ekonomi menunjuk siswa untuk berperan sebgai seorang pedagang
Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu
Guru biologi mendemonstrasikan penggunaan thermoneter suhu badan.
Tukang kayu mendemonstrasikan salah satu alat pertukangan.
Guru bahasa Indonesia menunjukkan teks berita dari Surat Kabar.
Beberapa sekolah telah menjadi rumah tahanan bagi siswa, sebagai tempat dimana mereka dipaksa untuk duduk manis selama bertahun-tahun. Ketika masuk, siswa mempunyai keanekaragaman, tetapi begitu keluar dari “pabrik” mereka sudah menjadi “produk massa”, seragam, variasi produknya rendah. Siswa merasa berada dalam dua dunia yang berbeda ketika berada di dalam dan di luar sekolah. Dengan adanya pemodelan, siswa dirangsang untuk menjadi kreatif dan mencoba menampilkan segala kemampuannya.

6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah di lakukan di masa lalu.

Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung” Kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, mestinya dengan cara yang baru saya pelajari, sehingga file dalam komputer saya lebih tertata.”
Pengetahuan diperoleh melalui proses, pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
Kegiatan mengevaluasi diri sendiri baik dilakukan karena itulah siklus kehidupan yang nyata. Mengalami – umpan balik – dan berusaha kembali berkali-kali akan lebih efektif daripada jika siswa dibiarkan memahami pengetahuan secara sepotong-sepotong dan mengandalkan penilaian dari orang lain (guru).

2) Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar.
Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat dan benar sehingga siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan di akhir periode (cawu/semester) pembelajaran ditetapi dilakukan bersama dengan secaras terintegrasi (tidak
terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Karakteristik authentic assessment adalah:
Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
Yang diukur keterampilan dan performansi, buka mengingat fakta
Berkesinambungan
Terintegrasi
Dapat digunakan sebagai feed back
Penilaian otentik menjadi diperlukan untuk pendidikan jaman sekarang dengan mengingat proses-proses di atas dibandingkan dengan penilaian tradisional yang mengandalkan paper and pencil test. Materi dan presentasi tetap perlu namun itu semua digunakan untuk mendukung pengalaman belajar bukan untuk menggantikannya. Maka penilaian yang berbasis pengalaman seperti karya siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, portofolio menjadi bukti kongkrit yang sesungguhnya/otentik tentang apa yang sudah dipelajari siswa.
J. COOPERATIVE LEARNING (PEMBELAJARAN KOOPERATIF)
Pembelajaran kooperatif mengupayakan seorang peserta didik mampu mengajarkan kepada peserta lain. Mengajar teman sebaya memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan, ia menjadi nara sumber bagi teman yang lain. Pengorganisasian pembelajaran dicirikan siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya. Mereka akan berbagi penghargaan bila mereka berhasil sebagai kelompok.
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan metode diskusi yang biasanya dilaksanakan di kelas, karena pembelajaran kooperatif menekankan pembelajaran dalam kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerjasama untuk mencapai tujuan yang optimal. Pembelajaran kooperatif meletakkan tanggungjawab individu sekaligus kelompok, sehingga diri siswa tumbuh dan berkembang sikap dan perilaku saling ketergantungan secara positif. Kondisi ini dapat mendorong siswa untuk belajar, bekerja dan bertanggung jawab secara sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ciri-ciri pembelajaran yang menggunakan model kooperatif :
Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah
Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda
Penghargaan lebih berorientasi kelompok dari pada individu
Manfaat Pembelajaran CL bagi siswa:
Meningkatkan kemampuan untuk bekerjasama dan bersosialisasi
Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap dan perilaku selama bekerjasama.
Mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Meningkatkan motivasi belajar, harga diri dan sikap perilaku yang positif, sehingga pembelajaran kooperatif siswa akan tahu kedudukannya dan belajar untuk saling menghargai satu sama lain.
Meningkatkan prestasi belajar dengan menyelesaikan tugas akademik, sehingga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.

Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :
(1) Kelompok cooperative ( awal )
o Siswa dibagi kedalam kelompok kecil yang beranggotakan 3 – 5 orang.
o Bagikan wacana atau tugas yang sesuai dengan materi yang diajarkan
o Masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan wacana / tugas yang berbeda-beda dan memahami informasi yang ada didalamnya.
(2) Kelompok Ahli
o Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana / tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sesuai dengan wacana / tugas yang telah dipersiapakan oleh guru.
o Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung awabnya.
o Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok cooperative.
(3) Kelompok Cooperative (awal)
o Apabila tugas sudah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali kelompok cooperative (awal)
o Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli.
o Apabila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya, secara keseluruhan masing-masing kelompok melaporkan hasilnya dan guru memberi klarifikasi.

Dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini juga digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :
(1) Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor urut.
(2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
(3) Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
(4) Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
(5) Tanggapan dari kelompok yang lain
(6) Teknik Kepala Bernomor ini juga dapat dilanjutkan untuk mengubah komposisi kelompok yang biasanya dan bergabung dengan siswa-siswa lain yang bernomor sama dari kelompok lain.

Teknik belajar mengajar Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan oleh Frank Lyman dan Spencer Kagan sebagai struktur kegiatan pembelajaran Cooperative Learning. Teknik ini memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain, keunggulan adalah optimalisasi partisipasi siswa
Langkah-langkah Pembelajaran Think Pair Share :
1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat, dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
2. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas yang diberikan sendiri.
3. Siswa berpasangan dengan salah satu temannya dalam kelompok dan mendiskusikan hasil yang dikerjakan.
4. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat untuk mendiskusikan kembali hasil pekerjaannya

Konsep diartikan sebagai abstraksi sekelompok benda atau fenomena yang memiliki persamaan karakteristik misalnya, gunung, transmigrasi, transpotasi, harga, pasar dan sebagainya. Memahami konsep berarti memahami unsur-unsur positif dan negatif, atribut, nilai dan definisi. Pendekatan pencapaian konsep ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk berpikir induktif, pengembangan dan analisis konsep. Disamping itu juga untuk melatih peserta didik dalam melakukan kategorisasi, sehingga meningkatkan kemampuan intelektual dalam mengolah informasi (Milan Riyanto dalam Pendekatan dan Metode pembelajaran)
Untuk mengimplementasikan pendekatan Pembelajaran pencapaian konsep diperlukan beberapa langkah-langkah sebagai berikut:
Tahap Persiapan
• Memilih dan mendefisikan konsep-konsep yang terkait dengan topik kajian.
• Memilih atribut-atribut atau ciri-ciri khusus dari suatu konsep.
• Mengembangkan contoh-contoh positif atau YA dan negatif atau TIDAK dari suatu konsep
Tahap Pelaksanaan
a) Secara klasikal guru mempresentasikan / menyajikan contoh-contoh positif dan negatif (yang telah disiapkan secara bergiliran) sehubungan dengan topik kajian. Dan menugaskan siswa untuk mengidentifikasi atributnya.
b) Siswa mengidentifikasi atribut atau ciri-ciri khusus dari contoh-contoh positif dan negatif.
c) Siswa merumuskan definisi atau pengertian suatu konsep berdasarkan atribut esensial dari contoh positif yang mendukung konsep
d) Penilaian proses dan hasil pencapaian konsep

STAD dikembangkan oleh Robert Stalvin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin, dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan STAD, juga mengacu pada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam satu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok harus heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap duan minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan.
Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan kepada seberapa jauh skor itu melampaui skor siswa yang lalu.
Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu. Kadang-kadang tim-tim yang mencapai kriteria tertentu dicantumkan dalam lembar itu
Untuk STAD dan versi Jigsaw Slavin, guru meminta siswa menjawab kuis tentang bahan pembelajaran. Butir-butir tes pada kuis harus merupakan suatu jenis tes obyektif paper-and-pencil, sehingga butir-butir tes dapat diskor di kelas atau segera setelah tes diberikan.
Penentuan skor individu
Langkah 1
Menetapkan skor dasar Setiap siswa diberi skor berdasarkan skor-skor kuis yang lalu
Langkah 2
Menghitung skor kuis terkini Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini
Langkah 3
Menghitung skor perkembangan Siswa mendapatkan poin perkembangan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor dasar mereka, dengan menggunakan skala dibawa ini:
Lebih dari 10 poin dibawah skor dasar 0 poin
10 poin dibawah sampai 1 poin dibawah skor dasar 10 poin
Skor dasar sampai 10 poin diatas skor dasar 20 poin
Lebih dari 10 poin diatas skor dasar 30 poin
Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar) 30 poin

Besar poin yang disumbangkan tiap siswa kepada timnya ditentukan oleh berapa skor siswa melampaui rata-rata skor kuis itu sendiri diwaktu lampau. Siswa dengan pekerjaan sempurna mendapatkan poin perkembangan maksimum, tanpa memperhatikan poin dasar mereka. Sistem perkembangan individual ini memberikan setiap siswa suatu kesempatan baik untuk menyumbang poin maksimum kepada tim jika siswa itu melakukan yang terbaik, sehingga menunjukkan peningkatan perkembangan substansial atau mencapai pekerjaan sempurna. Sistem poin perkembangan ini telah menunjukkan kinerja akademik siswa mestipun tanpa tim, tetapi ini khususnya penting sebagai komponen STAD, karena system ini mencegah kemungkinan siswa berkinerja rendah tidak akan diterima sepenuhnya sebagai anggota kelompok karena tidak menyumbangkan poin banyak Slavin juga menjelaskan penilaian dan evaluasi penting terakhir yang unik untuk pembelajaran kooperatif adalah pengakuan terhadap upaya dan hasil belajar siswa. Guru melaporkan dan mengumumkan hasil tim dan pembelajaran individual dalam pengumuman temple kelas mingguan.
Perkembangan terakhir, untuk mengurangi persaingan antar tim, guru mementukan tim pemenang, mereka merekomendasikan pemberian pengakuan tim-tim yang berhasil mencapai criteria yang ditetapkan sebelumnya untuk mengevaluasi hasil belajar tim.

Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Instruction (PBI) dan penggunaannya untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Model ini juga dikenal dengan nama lain Pembelajaran Proyek, Pendidikan Berdasarkan Pengalaman, Belajar Autentik dan Pembelajaran Berakar Pada Kehidupan Nyata. Secara garis besar PBI terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Ciri-ciri Khusus PBI
Pengajuan pertanyaan atau masalah Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa, karena membahas situasi kehidupan nyata autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk masalah yang dibahas.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Misalnya masalah polusi dapat dibahas dari mata pelajaran biologi, ekonomi, sosiologi, pariwisata dan pemerintahan.
Penyelidikan autentik. PBI mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. PBI menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan.

Tujuan Pembelajaran PBI
Keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah. Berfikir tingkat tinggi adalah nonalgorithmik, yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat ditetapkan sebelumnya, cenderung komplek, menghasilkan banyak solusi, melibatkan pertimbangan dan interpretasi, melibatkan banyak criteria yang kadang-kadang bertentangan satu dengan yang lain, melibatkan ketidakpastian, melibatkan pengaturan diri tentang proses berfikir, melibatkan pencarian makna dan kerja keras.
Pemodelan Peranan Orang Dewasa. PBI membantu siswa untuk berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar pentingnya peran orang dewasa. Bentuk pembelajaran ini dapat nenjembatani gap antara pembelajaran sekolah formal dengan aktivitas mental yang lebih praktis yang dijumpai di luar sekolah.
Pembelajar yang Otonom dan Mandiri
PBI berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom, dengan bimbingan guru dorongan dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesaian terhadap masalah nyata oleh siswa sendiri, siswa belajar untuk menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri dalam kehidupannya kelak.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Tahap Tingkah laku Guru
Tahap-1
Orientasi siswa terhadap masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperiment, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka atau proses-proses yang mereka gunakan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Puskur – Balitbang Depdiknas, 2006, Standar Isi Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah
Dirjen PMPTK, 2007, Materi Diklat Pengembangan Program Pakem, Direktorat pembinaan Pendidikan dan Pelatihan.
Anita Lie, Dr, 1999, Metode Pembelajaran Gotong Royong, Surabaya : CV Citra Media.
Ad W. Gumawan, 2003, Born to be a Genius, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Bobbi De Porter 7 Mike Hernacki, 2000, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Bandung : Kaifa.
Bobbi De Porter 7 Mike Hernacki, 2000, Quantum Teaching Mempraktikkan Quantun Learning di Ruang Kelas, Bandung : Kaifa.
Depdiknas, Dirjen Dikdasmen, 2003, Pendekatan Kontektual (Contextual Teaching and Learning – CTL), Jakarta : Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution), Bagian I dan II, Bandung, Kaifa.
Mel Silberman, 2002, Active Learning, Yogyakarta : Yappendis.
Muslimin Ibrahim dan Mohamad Nur, 2000, Pembelajaran Kooperatif, Surabaya : University Press.
Rochman Natawidjaja, 1985, Cara belajar siswa aktif dan penerapannya dalam metode mengajar, Jakarta : Proyek PSPB, Dirjen Dikdasmen.
Sukandi Ujang dkk, 2003, Belajar Aktif & Terpadu, Jakarta: Duta Graha Pustaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s